Pemilih Apatis dan  Pragmatis

Golput sebagai Sikap apatis masyarakat terhadap pemilu.

Apatisme Masyrakat dalam politik seringkali hanya diartikan dalam tindakan personal dimasyarakat untuk tidak ikut serta dalam agenda politik parah ahlipun sering kali memberikan indikator apatisme hanya dari keikutsertaan masyarakat pada sebuah agenda politik. Para pemilih yang di anggap apatis tersebut tetap datang ketempat pemungutan suara dan memilih, apatisme masyarakat juga sering kali di salah artikan sebagai golongan putih yang berati sekelompak masyarakat yang menolak untuk memilih, mengukap data golput dari tahun 2005 sampai tahun2010 ditemukan angka golput secara rata mencapai 27,9% – 35,0% LSI menganggap golput sebagai gerakan sosial akan tetapi sebagai nonpartisan. Kesalahan inteprensi ini terus berlangsung hingga saat ini. Masyarakat sering kali menghindari pertayaan pertayaan mengenai politik dan langsung meyebut politik itu buruk jahat dan korup agaknya ide ini tidak berkembang dengan sendirinya ide mengenai citra politik yang buruk ini di dapat masyarakat dari dari media massa baik dari media cetak maupun elektronik yang juga milik beberapa beberapa toko politik yang merangkap sebagai pengusaha, dan dalam masyarakat sering kali terlontar dictum “siapapun pemimpinnya tida bisa merubah keadaan, masyarakat tetap sensara (secara ekonomi), apatisme maupun golput sangat berbahaya bagi Negara demokeratis karena akan mengarah pada kerisis legitimasi kekuasaan. Bahaya dari golput dan apatisme masyarakat adalah langgenya status quo dan jatuh nya pemimpin Negara ke pada orang yang salah, apatisme masyarakat dalam pentas politik di Indonesia dengan berasumsi bahwa apatisme masyarakat secara structural merupakan dampak  dari alienasi politik,

 Apatis adalah sikap masyarakat yang masa bodoh dan tidak mempunyai minat atau perhatian terhadap orang lain, keadaan, serta gejala-gejala sosial politik pada umumnya. Orang-orang yang apatis menganggap kegiatan berpolitik sebagai sesuatu yang sia-sia, sehingga sama sekali tidak ada keinginan untuk beraktivitas di dunia politik. Orang-orang yang bersikapa apatis terhadap kegiatan berpolitik di karena sebagian masyarakat yang sama sekali tidak memahami hakikat politik sesungguhnya. Sikap apatis masyarakat terhadap politisi menjadi penyebab utama golput (golongan putih), golongan putih diartikan sebagai pilihan politik warga negara untuk tidak menggunakan hak pilih. Hal ini berkaitan dengan partisipasi politik. Keinginan golput merupakan pilihan yang dilakukan secara sadar, karena kenyataannya dari dulu mulai kampanye hingga pemilihan akhirnya semua tetap sama saja, sehingga adanya sebagian orang yang mengabaikan Pemilu

Beberapa cara yang harus di alukan agar pemilih apatis menjadi aktif

  1. melakukan pendekatan politik kepada masyarakat.
  2. lebih mendalam ke masyarakat agar masyarakat
  3. Menanamkan imej yang baik kepada masyarakaat

( pemilih aktif contoh dalam pemilihan umum masyarakat harus aktif mendaftarkan diri sebagai pemilih )

Kesadaran politik berarti sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, sikap dan kepercayaan terhadap pemerintah lebih kepada penilaian seseorang terhadap pemerintah, apakah pemerintah dapat dipercaya atau tidak. Apabila seseorang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan terhadap pemerintah yang tinggi, partisipasi politik cenderung aktif. Sebaliknya, apabila kesadaran dan kepercayaan rendah terhadap pemerintah, partisipasi politik cenderung pasif (contoh dalam pemilu masyarakat hanya pasif menunggu didaftar menjadi pemilih.  )dan tertekan (apatis). Salah satu alasan yang menyebabkan sikap apatis pada masyarakat umumnya adalah dengan adanya anggapan pada individu dan masyarakat bahwa partisipasi politik adalah hal sia-sia karena tidak pernah efektif. Pola pikir masyarakat melihat elite politik yang senantiasa selalu membodohi masyarakat dan masyarakat yang mempunyai pengalaman dan pemahaman bahwa pemerintah dan elit politik, baik tingkat pusat maupun daerah, selama ini tidak mampu melakukan perubahan sosial politik bagi perbaikan nasib rakyat banyak. Masyarakat yang umumnya ada perasaan terasingkan dari politik atau pemerintahan dan cenderung berpikir bahwa pemerintahan dan politik hanya dilakukan oleh dan untuk orang lain, jadi merasakan dan memandang berbagai kebijakan elit politik atau pemerintah tidak lagi bersesuaian dengan sikap dan pemikiran politiknya atau kepentingan rakyat banyak.

Masyarakat memandang elite politik tidak mengalami perubahan yang jelas. Hal ini bisa dari masyarakat yang menjadi korban kebijakan politik yang sedang berkuasa. Ada sebagian masyarakat yang sangat mengerti sekali dengan politik tetapi pemilu tak ubahnya hanya sandiwara politik karena hakikatnya, pemilu hanya akan menguntungkan secara politik dan ekonomi kepada elit politik. Golput muncul karena berdasarkan bahwa keberadaan pemilu dan aktivitas memilih tidak akan berdampak lebih baik pada diri pemilih. Hal ini terjadi ditengah masyarakat yang terjebak pada apatisme. Kecenderungan ini muncul ketika norma-norma sosial yang selama ini disepakati dan dijabarkan dalam suatu masyarakat mengalami kelonggaran, kegoyahan, dan kehilangan fungsinya yang efektif. Golput bukanlah pilihan tepat dan cenderung mendorong masyarakat menjadi apatis. Kondisi ini bisa menciptakan rendahnya legitimasi pemerintah serta mendorong munculnya masyarakat yang antipati (ketidaksukaan untuk sesuatu atau seseorang), terhadap perkembangan politik. Dampaknya akan mendorong lemahnya sarana-sarana politik formal yang ada saa

Faktor- faktor peyebab nya pemilih apatis

1. kerusahan yang terjadi di suatu daerah

2. kecewa kepada calon yang di anggap tidak sesuai dengan harapan

3. pola piker masyarakat, elit politik yang selalu membodohi masyarakat

4. Masyarakat memandang elite politik tidak mengalami perubahan yang jelas

5. rendah nya pengetahuhan masyarak terhadap politik

6. tidak ada nya kepercayaan masyarakat terhadap politik

7. buruk nya imej parpol dan politik di mata masyarakat

Beberapa contoh kenapa masyarakat bersikap apatis

  1. Calon pemilih yang memilih bersikap apatis  Hal ini dilakukan, setelah mereka kecewa terhadap perangai politisi berikut kebijakannya yang dianggap tidak sesuai harapan dan tidak ada perubahan apapun maka bayak dari masarakat tidak menaruh kepada pemiluh
  2. Kisruh tahapan Pemilukada yang terus bergulir sampai sekarang, secara tidak langsung telah menjadikan masyarakat secara keseluruhan, khususnya masyarakat pemilih apatis (hilang kepercayaan).
  3. Sebulum calon mendapat kan kursi panas di legiselatif mereka selalu menjanjikan kepada masyarakat akan janji janji nya namun setelah mereka duduk keyataan jauh dari apa yang di ucapkan

Obral janji

Sejak reformasi, obral janji menjadi “booming”. Pemilihan legislatif, Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati/Walikota selalu didahului obral janji. Selama masa kampanye rakyat miskin selalu menjadi target utana karna Jumlah suara rakyat miskin yang besar sangat dibutuhkan oleh semua calon. Jika nanti terpilih, calon berjanji meningkatkan taraf hidup rakyat miskin menjadi prioritas utama. Obral janji menjelang pemilihan umum adalah hal yang wajar dan berlaku di seluruh dunia. Pada umumnya, janji yang diumbar berisi harapan akan kondisi yang lebih baik jika yang bersangkutan memperoleh suara signifikan ( penting.berarti ), memperoleh kursi, atau menang dalam pemilu. Obral janji sering kita dengar dari para calon presiden dan wakil presiden pula. Dalam konteks pemilu di Indonesia, proses penagihan janji kampanye sebenarnya sudah sering terjadi. Menghadapi hal ini, para wakil rakyat ada yang bersikap elitis, namun ada juga yang justru responsif. Bagi yang responsif biasanya muncul jika janji yang dituntut itu tidak terlalu berat untuk dipenuhi. dilihat dari kualitas orang-orang yang maju menjadi peserta pemilu tersebut ditengarai tidak representatif dan tidak cukup mewakili kepentingan rakyat. Sikap elitis masih menaungi para calon yang coba merebut tangku kepemimpinan.

Banyak kalangan yang pesimis terhadap pemilu sehingga melahirkan gelombang apatisme terhadap pelaksanaan pemilu tersebut. Persis seperti yang dialami oleh masyarakat kita akhir-akhir ini ketika pemilihan umum semakin dekat. Hal ini memang sudah menjadi fenomena musiman menjelang pelaksanaan pemilu. Fenomena apatisme publik ini tak lepas dari pola perilaku elektoral rakyat Indonesia sendiri yang kerap kali terjebak dalam politik pragmatis. Politik pragmatis, menurut Aboeprijadi Santoso, tidak hanya menandai sikap sebagian rakyat, tapi justru menjadi ciri pula dari ego politisi partai ataupun kontestan pemilu yang mengejar jabatan lewat kemenangan dalam pemilu.

Sasaran obral janji

  1. masyarakat miskin karna suara masyarakat miskin yang di perlukan oleh semua calon calon dalam pemilihan

Janji yang di umbarkan calon antara lain:

  1. menciptakan kondisi lebih baik
  2. mendapatkan paket kebutuhan untuk warga setiap bulan nya jika ia terpilih
  3. menjajikan sejumlah uang

cara cara melakukan penagihan janji

  1. mendatangi secara langsung wakil rakyat dari suatu daerah pemilih
  2. menggunakan proposal

Masyarakat apatis, pragmatis dan aliensi politik

Apatisme merupakan sikap acuh tak acu terhadap sebuah hal, dalam hal ini adalah politik.apatisme masyarakat terhadap politik di latari oleh dua aspek yaitu rendaj nya ke percayaan  terhadap politik yang berlangsung dan rendah nya ketertarikan masyarakat terhadap politik.dalam kahsusu apatisme masyarakat terhadap politik khususnya di Indonesia , hala ini terjadi melalaui reproduksi wacana kesenjangan anatara masyarakat dan eliti politik. Namun fenomena pemilih pragmatis itu bisa jadi terbit sebab lebih diawali oleh fenomena politisi pragmatis yang menjamur dimana-mana.Pragmatis adalah cara pandang atau pola pikir seseorang yang ingin memperoleh atau mendapatkan sesuatu dengan cara – cara yang mudah dan praktis.Pragmatisme adalah paham tentang cara pandang atau pola pikir seseorang yang ingin memperoleh atau mendapatkan sesuatu dengan cara – cara yang mudah dan praktis. Kecenderungan pemilih di masyarakat belakangan telah banyak dijumpai sangat apatis dan pragmatis. Mereka akan mencoblos manakalah ada imbalan dan janji sesuai dengan kepentingan masyarakat.  Kecenderungan itu muncul bukan tanpa sebab, salah satunya karena prilaku wakil yang dipilih dalam perkembangannya sudah tidak mencerminkan kepentingan masyarakat. Untuk menarik simpati pemilih apasif tersebut, harus melakukan pendekatan dengan memberikan penyadaran politik. Pihaknya menghindari politik uang dalam menggaet pemilih. Sebab, kata dia, politik transaksional sangat membahayakan iklim demokrasi di Indonesia.

Beberapa alasan mengapa seseorang menjadi apatis.

 

Pertama, karena ekonomi.                   Seorang maha siswa. Dia datang seorang diri dari rumahnya di Surabaya. Di UI , dia kuliah dengan biayanya sendiri, bekerja membanting tulang. Untuk memenuhi kebutahan nya “ Dan dia memutuskan untuk menjadi apatis karena keadaan ekonomi.

Kedua, karena tidak tahu.                   Seringkali kita tidak mau melakukan sesuatu karena tidak tahu manfaatnya. Kita apatis karena kita tidak tahu apa manfaatnya kalau kita menajdi aktivis. Kita menganggap itu perbuatan yang sia-sia, karena itulah kita memilih menjadi apatis. Untuk orang yang satu ini, kita hanya perlu mendidik mereka dan berdialog saja.

Ketiga, karena malas.                          berpendapat berbeda. Malas, egois, tidak peduli, semau gue, apa urusannya sama gue, yang penting gue seneng, dan sederet alasan lain itu adalah virus mematikan bagi kemanusiaan dan daya kritis mahasiswa.

Di sebut pragmatis, karna pilihan akan di tentukan sebelum sesaat sebelum akan berangkat ke TPS ( tempat penmungutan suara) Berbagai tafsiran politik dapat diajukan disini sebagai jawabannya.

 

Pertama, pragmatisme                         pemilih merupakan gejala buruk dari demokrasi lokal kita. Disebut begitu sebab proses memilih para pemilih tak lagi berbasis pada kriteria-kriteria yang dirasa layak-sebagaimana kriteria-kriteria demokrasi seperti; mampu berbuat adil, menjunjung supremasi hukum, dll. Melainkan didasarkan pada transaksi material yang diterima sebelum memilih. Dalam istilah  JSI “menunggu sesuatu untuk memastikan pilihan”.

Kedua, fenomena pragmatisme          pemilih dapat dijelaskan sebagai efek Keringnya pemahaman akan hak-hak politik warga negara. Ini berarti tak ada kemajuan signifikan dalam pengalaman berdemokrasi kita setidaknya pasca reformasi. Lantas, siapa yang paling bertanggungjawab untuk urusan seperti ini? Pemerintah dan parpol lah yang bertanggungjawab. Tugas mereka adalah melakukan sosialisasi hak-hak politik warga Negara kepada masyarakat.

Ketiga, fenomena                                pemilih pragmatis dapat pula difahami sebagai bentuk resistensi politik masyarakat pemilih terhadap para aktor politik. Itu merupakan resistensi atas sikap elit yang cenderung tidak memberikan perhatian ketika telah duduk dikursi kekuasaan. Pengalaman menjadi pemilih ditingkat rakyat dirasakan sebagai pengalaman buruk; dijanji lalu tidak ditepati, dan ini berlangsung bertahun-tahun lamanya. “Lebih baik menerima pemberian sesuatu walau bersifat sesaat daripada tidak mendapatkan apa-apa diesok hari selama lima tahun”, kurang lebih begitu persepsi politik yang tumbuh dilevel bawah.

Cara lain yang bisa di gunakan untuk membuka pemikiran pemilh pragmatis anatar lain :

Pendidikan Politik

Sejatinya, pemilih pragmatis tak boleh dibiarkan hadir terus menerus, sebab akan berdampak negatif terhadap demokratisasi, setidaknya demokrasi akan kehilangan makna substansinya bila pemilih prgamatis menjamur. Untuk itu, perlu antisipasi dalam mencegah meluasnya kelompok pemilih pragmatis ini.Antisipasi yang memungkinkan ditunaikan adalah memperluas gerakan pendidikan politik untuk warga. Yang diperluas bukan semata-mata objek pendidikan politik itu, tetapi aktor pendidikan politik itupun perlu diperluas, sebab pemerintah dan parpol yang selama ini diamanahkan konstitusi sampai kini nampaknya tidak progressif menjalankan itu.Karena itu, sudah saatnya lembaga pendidikan, ormas, LSM, dan organsisasi masyarakat civil lainnya perlu mengambil alih peran pendidikan politik ini. Perlu dibangunkan iklim yang memungkinkan mereka menjalankan pendidikan politik untuk warga. Point utama gerakan pendidikan politik yang dimaksud  adalah pendidikan politik yang bertumpu pada partisipasi politik, bukan pada mobilisasi politik atau partisipasi semata. Pendidikan politik yang tidak semata menekankan kesadaran kritis, tetapi juga kesadaran berpolitik rakyat. Ini semuanya penting agar politik tidak lagi dianggap dosa dan demokrasi tidak jatuh ke tangan pemerkosa hak-hak rakyat. Model ini akan segera memperkuat sumber daya politik rakyat sebagai warga Negara

Perbaikan Rekruitmen

            Sementara untuk meminimalisasi politisi pragmatis, dibutuhkan komitmen parpol-dalam kaitan ini Parpol sejatinya mereformasi pola rekruitmen kader/aktifis politiknya. Secara normatif, rekruitmen politik ini mencakup; pemilihan, seleksi, dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintah pada khususnya.Parpol dalam melakukan rekruitmen politik selama ini cenderung pragmatis pula dalam “memilih-menyeleksi-mengangkat” kader politiknya, sehingga politisi yang lahir adalah politisi pragmatis pula. Kecenderungan rekruitmen politik secara pragmatis ini tergambar dari (nyaris) hilanganya kaderisasi politik di internal parpol. Kaderisasi politik sebagai salah satu metode penting rekruitmen politik, kini tergantikan oleh metode “aklamasi” sang ketua umum Parpol bersangkutan. Selain membuahkan politisi pragmatis dan karbitan, tiadanya metode rekruitmen politik yang rasional-demokratis ditubuh parpol juga akan berpotensi melahirkan konflik yang tidak produktif diinternal parpol.Dengan demikian, semakin dibutuhkan hadirnya parpol yang mampu melahirkan kader/politisi yang tidak pragmatis, dan mampu bekerja ril untuk konstituennya/rakyat. Untuk mewujudkan ini, pola rekruitmen diinternal parpol melalui kaderisasi penting dijalankan secara berkelanjutan.

Kesimpulan

Apatisme masyarakat terhadap politik memiliki dua aspek pendorong yaitu ketidak percayaan publik terhadap elit politik atau politik secara umum dan rendahnya ketertarikan masyarakat terhadapa politik. Dalam pembahasan mengenai kedua hal tersebut penulis menemukan bahwa ketidak percayaan publik (public distrust) dilatari oleh perilaku elit politik, lemahnya supremasi hukum, dan campur tangan media dalam pembentukan opini publik. Sedangkan dalam poin rendahnya ketertarikan masyarakat terhadap politik, penulis menemukan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap politik dipengaruhi oleh citra politik di masyarakat yang dipengaruhi oleh public trust sebagai struktur referensial pada pemahaman masyarakat.

 Citra politik secara umum yang berada pada pemahaman masyarakat adalah bahwa politik adalah permainan kotor yang berujung pada korupsi. Namun pada sisi lain ketertarikan masyarakat terhadap politik lantas berubah menjadi ketertarikan oportunistis terhadap peluang ekonomi yang akan membawa keuntungan pribadi. Hal ini antara lai disebabkan oleh tekanan ekonomi dan kesenjangan sosial. Berdasarkan analisis tersebut penulis menyimpulkan bahwa jika masyarakat mau menginternalisasi politik kedalam dirinya dan eksistensinya sebagai masyarakat tentunya masyarakat pun akanmenyadari bahwa politik merupakan sebuah produk sosial yang mereka ciptakan melalui upaya-upaya yang mereka lakukan untuk membentuk identitas kebangsaan ataupun komunitas politiknya. Namun pada kenyataannya masyarakat terasing dari produksi sosialnya sendiri bahkan politik menjadi hal yang bukan hanya terpisah dari masyarakat namun sekaligus berkonfrontasi dengan masyarakat melalui kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan masyarakat bahkan berpotensi merugikan masyarakat.

Apatisme_politik_masyarakat_di_Indonesia ( PDF )

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s